Tritangtu & The 3 Dimensional World

“Gazing up at the sky should be a mandatory habit”

Why so? She asked.

The 3 Dimensional world, where we lived in right now, transpires a perfect polarity; positive & negative, rich & poor, virtue & vice, empirical & theoritical, mystical & physical,

Feminine & masculine,

Feeling & reasoning,

Sky & earth,

Yin & yang,

Celestial & Terra.

So, what? She asked again, impatiently

Human is the “&

Our feet are nailed to this earth, bounded by gravity and our worldly desires. And this bound often makes us forget that we are here to be the link between those polarity, makes us forget that we are here to embrace both polar.

To be both subtle and hard, to be both nice and evil, to be both selfish and altruist, to feel both misery and pleasure. The first step into harmony, is from experiencing both extremity.

Human is the “&

Gazing up at the sky reminds us that we live in the centre of the polar between Sky & Earth.

Human, Sky & Earth; Tritangtu, the trinity that exists to balance the polarity.

Habluminallah-habluminannas-habluminal’alam

Menjadi Mentor: Sepriyadi #1

“Vita non est vivere sed valere vita est”

Inhale.. Exhale..

Sambil saya mengatur napas, saya berusaha menguntai sinaps demi sinaps yang ada di kepala saya agar bisa hadir dan menjadi dalam ke-sekarang-an. Meditasi telah jadi sebuah ritual pagi yang sudah saya lakukan sejak 2 tahun lalu, agar saya bisa mendapatkan kesendirian yang sepi sebelum saya keluar ke dunia luar yang sangat riuh.

Tapi sejak 3 bulan lalu, saya jarang mendapat kesepian yang saya idamkan dari ritual pagi ini. Semenjak saya numpang tinggal di RMHR, ritual pagi saya pasti terinterupsi oleh suara mondar-mandir orang atau bau rokok yang menjadi ritual pagi penghuni lain di rumah ini. Dalam keadaan terbaiknya, rumah ini sangat hangat dengan keriuahannya. Tapi semua keriuhan ini perlu di netralisir dengan sebuah keheningan pagi. “Setidaknya, biarkan saya punya waktu sendiri di pagi hari!”, keluh saya dalam hati.

Inhale.. exhale..

Suatu pagi, ditengah sebuah helaan napas, seseorang menginterupsi dengan suara sedikit bergetar. Suara bergetar ini sesungguhnya terdengar tak cukup berani untuk menginterupsi, tapi tampaknya ia punya dorongan gigantik dari dalam dirinya sehingga memberanikannya untuk akhirnya menyapa. Biasanya interupsi macam ini bikin saya bete, tapi kali ini engga.

“Teh…. teh Gadis lagi sibuk ga?”

Suara bergetar itu keluar dari mulut Sepriyadi. Seorang lelaki paruh baya, kurus kering, tingginya mungkin lebih dari 170cm, berkulit sawo matang. Ia adalah salah seorang anak jalanan yang menjadi penghuni di RMHR sejak lama. Mungkin umurnya lebih tua dari saya, tapi saya tak pernah berani menanyakan langsung. Takut menyinggung. Supaya sopan, saya selalu memanggilnya dengan sebutan Aa Sepri.

Tentu, dengan asas kesopanan juga, saya menghentikan ritual meditasi saya dan menyambut sapaan A Sepri. Tapi ini bukan cuman balasan sapa yang normatif dari dorongan Fe* dominan saya, sesungguhnya asas penasaran juga telah mendorong saya untuk menanyakan keperluannya. Ada urgensi sebesar apa, sampai-sampai A Sepri berani menginterupsi ritual pagi saya dan memaksakan suara bergetar itu untuk menyapa?

“Ada yang bisa Gadis bantu, A Sepri?”, tanya saya lembut.

“Umm.. Jadi gini, Teh… Teh Gadis teh kerjaannya jadi guru kan ya?

Gini, Teh.. Sepri teh wawasannya sempit banget. Sepri teh dulu cuman sekolah sampe kelas 3 SD, abis itu gak bisa ngelanjutin lagi. Tapi dari dulu Sepri teh pengen banget punya wawasan luas kayak yang lain, kayak yang sekolah. Pengen banget jadi pinter kayak yang lain.

Boleh gak.. kalau… teh Gadis ngajarin Sepri?

Ngajarin apa aja, terserah Teteh. Sepri mau kok diajarin apa aja! Yang penting, Sepri bisa pinter juga kayak yang sekolah!

Mendengar cerita singkat ini, gimana saya gak luluh?!

Interupsi ini sama sekali tidak mengganggu ritual saya. Malah, interupsi ini seakan memperkaya meditasi saya. Sinaps berantakan yang sedari tadi coba saya aktivasi, tiba-tiba langsung bangun dan berjajar rapih. Usaha saya untuk terkoneksi dengan semesta seakan langsung tinggi sinyalnya karena saya bisa terhubung dengan A Sepri, lewat sebuah interupsi halus dari suara yang bergetar.

Dengan semangat, saya langsung bilang,

“A Sepri, makasih ya udah dateng dan minta hal ini. Gadis janji, Gadis bakal kasih tau semua hal yang Gadis tau ke A Sepri!”

Obrolannya beneran sesingkat itu. Tanpa introduksi bertele-tele, dan tanpa akhiran yang kompleks. Pagi itu, saya mengakhiri ritual saya dengan helaan napas panjang.

Fiuuuh… Exhale..

 


Tapi setelah itu momen itu berlalu, langsung ada banyak pertanyaan yang saya tau harus saya jawab secepatnya;

  • Harus mulai dari mana ya?
  • Harus pakai metoda apa ya?
  • Harus atur ekspektasi seperti apa ya?

Dengan banjiran pertanyaan ini, saya tau bahwa ini akan jadi pembelajaran yang baru buat saya!

Apa sih yang betul-betul ingin saya ajarkan ke A Sepri? Apa yang bisa membuat A Sepri berani mendobrak paradigma “anak lulusan 3 SD” yang selama ini membatasi dirinya?

“Vita non est vivere sed valere vita est” = “Life is more than merely staying alive”

Langkah Pertama

Buku Catatan.

Untuk A Sepri yang sudah terbiasa menjalani hidupnya hanya untuk bertahan hidup di jalanan, 2 paradigma pertama yang harus disetel ulang dari kepala A Sepri adalah: Hidup itu bukan cuman sekedar untuk bertahan hidup dan Pengetahuan gak harus didapat dari ruang kelas & ijazah, tapi bisa didapat dimana-mana.

Saya pikir, kemampuan menaklik adalah sebuah kemampuan yang primordial dan harus dilatih setiap hari oleh seseorang. Dengan sebuah buku catatan, saya harap dia bisa menaklik hari-hari yang dilewatinya dan mengambil pelajaran dari sana. Seperti Socrates bilang, “Unexamined life is not worth living”

Langkah Kedua

Rasa penasaran.

“Bukan cuman karya arsitektur yang bisa dibilang sebagai sebuah lingkungan binaan. Tapi juga ruang belajar itu harusnya jadi lingkungan binaan!”. Pernyataan ini terhempas dari teman saya terkagum-kagum dengan tulisan Avianti Armand. Saya setuju seratus persen.

Ruang belajar itu gak seharusnya punya mimbar. Kala ini, ruang belajar yang paling efektif adalah lingkungan binaan yang secara natural menghadirkan titik bifurkasi; titik lompatan untuk seseorang mencapai tempat yang lebih jauh.

Caranya adalah dengan menginduksi rasa penasaran di setiap kelas, dan membuat A Sepri melompat dengan sendirinya.

Karena sesungguhnya, guru paling agung itu bukan seorang lelaki berjanggut dengan titel professor. Guru paling baik ada disekitarmu, di Semesta yang kamu tinggali.

Manusia cuman harus berusaha jadi murid yang baik. Baik bukan dalam arti ‘penurut’, tapi menjadi murid yang ingin mendengarkan dan menaklik apa-apa yang diajarkan oleh Semesta ini.

Saya akan membuat jurnal selama menjadi mentor Sepriyadi. Ini adalah halaman pembukanya.


Catatan kecil: Sebagai seorang ENFJ, saya emang suka (dan secara natural) ngajarin orang dengan menginduksi nilai-nilai Ni. Saya butuh tambahan ‘guru’ yang bisa menambah nilai-nilai lain dalam konteks Ne, Te, Ti, Si atau Se! So please do tell me if you want to help A Sepri to break his own boundaries, and achieve more than what was expected of him.

“Vita non est vivere sed valere vita est” = “Life is more than merely staying alive”

Re-introduksi: Tentang Manuver Terbaru Gadis

Halo nama saya Gadis Prameswari Azahra, mahasiswi Ilmu Kesehatan Masyarakat di sebuah Universitas berbasis daring.

Tulisan ini saya buat khusus untuk teman-teman saya yang sudah lama tidak bertemu. Mungkin dipisahkan oleh jarak, atau karena kita sudah mengambil jalan yang tak lagi bersinggungan. Tulisan ini untukmu, teman-teman yang kenal saya sebagai Gadis si Anak Sepedah, Gadis si Anak Aktif, Gadis si Anak Gaul ataupun Gadis si Anak Komunitas. Ini adalah sebuah re-introduksi. Mengenalkan kalian kembali pada Gadis yang terkini.

The latest version of Gadis.

Saya berhutang cerita untuk mu, seseorang yang pernah bertemu saya di sebuah perempatan jalan. Sebuah cerita tentang lanjutan perjalanan saya.


“Mau jadi apa sih saya ini? Apa sih peran saya di dunia ini?”, mungkin ini adalah pertanyaan paling populer yang ditanyakan oleh 1,8 milyar anak muda di penjuru dunia. Sebuah problematika standar di era coming-of-age. Dengan maraknya slogan “Follow your passion! Be yourself!”, anak-anak yang sedang berada di coming-of-age ini makin kalang kabut saat belum keliatan punya passionnya sendiri.

Memang, pertanyaan ini bagus untuk menjadi arah menuju destinasi ‘kedewasaan’ yang diidam-idamkan anak muda. Tetapi sesungguhnya, terlalu dini untuk menjawab pertanyaan itu kalau belum membuat jangkar. Jangkar yang terbuat dari sebuah pertanyaan agung. Pertanyaan yang lebih primordial.

“Adakah benang merah dari segala yang sudah saya lakuin?”

Tanpa jangkar ini, anak-anak muda seperti saya malah bisa jadi cuman mengimitasi renjana yang terlihat keren (yang seringkali tergambar lewat akun-akun selebritas media sosial), yang sesungguhnya bukan renjana miliknya sendiri.

“You can’t connect the dots looking forward; you can only connect them looking backwards. So you have to trust that the dot will somehow connect in your future.” — Steve Jobs

Sebagai teman lama saya, kamu tentu tahu bahwa saya pernah menjadi ‘Gadis si Anak Komunitas’; dari ikut Komunitas Sahabat Kota saat SMP, bikin komunitas sepeda sendiri, hingga pernah tergabung di BCCF (Bandung Creative City Forum). Pernah juga saya menjadi ‘Gadis si Anak Gaul ’; dari menjadi penyiar Oz Radio, ikut dalam kepanitiaan acara kuliner kekinian, hingga bekerja di sebuah restoran menjadi marketing paruh waktu. Merasa kurang ekstensif, saya mengembangkan pengalaman saya dengan pekerjaan yang bidangnya asing untuk saya dan menjadi ‘Gadis si Anak Aktif’; menjadi asisten manajer TULUS, menjadi asisten sutradara film pendek di 9Matahari, hingga bekerja jadi associate producer di sebuah perusahaan seni pertunjukan. Memang, seharusnya pengalaman ekstensif ini saya syukuri dan saya banggakan. Tetapi saat dihadapkan dengan pertanyaan agung diatas, pengalaman ekstensif ini membuat saya bingung setengah mati! Gimana caranya nyari benang merah dari semua pengalaman ini?!

“Adakah benang merah dari segala HAL YANG TIDAK BERHUBUNGAN ini?”

Saat saya menguntai benangnya satu per satu, tidak sekali pun saya menemukan satu benang yang warnanya benar-benar merah. Ungu, merah muda, oranye, magenta. Semua benang yang saya punya bercorak kemerahan, tapi tak ada yang benar-benar merah. Semua warnanya biner.

Oh, mungkin, pertanyaannya salah ya? Sebelum saya menemukan benang merah itu, mungkin saya harus cari mengurai lagi benang-per-benang untuk menemukan warna merah yang selalu ada di dalam spektrum warna benang itu?

Dengan kebingungan ini, saya menderivasi pertanyaan agung itu ke satu pertanyaan baru;

“Apa hal yang selalu ada, dari semua pengalaman itu?”

Awalnya saya pikir, saya akan menjawab sesuatu yang berhubungan dengan Komunikasi atau Public Relation (karena topik ini sangat masuk akal untuk menghubungkan dengan segala kegiatan saya bukan?). Mungkin saya merasa ‘hidup’ saat saya berhasil membuat jaringan super luas dengan ikut banyak komunitas? Mungkin juga saya merasa hidup saat saya jadi ‘anak gaul’? Tapi ternyata, bukan itu.

Saya gali lagi, lalu gali lagi, lalu gali lebih dalam lagi agar saya bisa menjawab pertanyaan ini dengan sebuah kelegaan hati. Hingga akhirnya, saya menemukan jawabannya. Diantara kegiatan-kegiatan itu, gagasan yang selalu ada dan membuat saya benar-benar merasa ‘hidup’; adalah;

Saya percaya, saat mendapat stimuli yang tepat, semua orang bisa menemukan versi terbaik dari dirinya sendiri. Keinginan untuk berkembang cuman harus dipicu oleh sebuah stimulus yang tepat. Dan saya suka menjadi stimulusnya.

Hahaha, saya tau, saya tau, jawaban ini tampak jauh korelasinya dengan segala aktivitas saya. Saya sendiri terkejut karena setelah menggali cukup dalam, ternyata jawaban ini yang saya temukan. Mari, mari, saya ajak kamu untuk melihat bekas galian yang saya lewati hingga saya menemukan jawaban ini!

Gadis si Anak Komunitas

Waktu itu saya masih kelas 2 SMP saat saya pertama kali tergabung dalam komunitas. Apa yang ada di kepala saya saat jadi bocah waktu itu? Kala itu saya merasa jengah dengan apa-apa yang diajarkan di sekolah, pun dengan pertemanan dengan teman sejawat saya di sekolah yang sedang melewati masa transisi dari bocah ke ABG. “Pasti ada yang lebih daripada ini”, pikir saya waktu itu. Gagasan ini jadi pendorong paling kuat untuk saya bisa mendobrak ruang belajar di institusi sekolah yang menurut saya membatasi, dan lalu pergi mencari ruang lebih luas yang bisa membebaskan nalar.

Di titik dobrakan besar ini, saya bertemu dengan Komunitas Sahabat Kota. Sebuah komunitas belajar yang mendesain pembelajaran aktif untuk anak-anak usia 5–13 tahun. Di pertemuan saya dengan komunitas ini saya belajar tentang filosofi “Guru paling agung bukan ada di ruang kelas ataupun di auditorium universitas ternama. Ia bisa berada diantara percakapan sore di meja bundar, di sela-sela permainan ataupun di tengah himpitan penumpang angkot”

Untuk seorang bocah berumur 13 tahun, gagasan ini sangat lah membebaskan! Saya jadi nagih dengan kegiatan berkomunitas. Saya nagih untuk dapat stimuli-stimuli baru yang bisa membuat saya berkembang. Adiksi ini telah mempertemukan saya dengan banyak komunitas lainnya; Komunitas Sepedah, Komunitas Lingkungan, Komunitas Kreatif, Komunitas Skena Musik Indie dan berakhir di sebuah hub komunitas bernama Bandung Cretive City Forum.

Cerita dari akhir dari perjalanan saya bersama komunitas-komunitas pernah saya bagikan di sesi Ted X Bandung terkahir saya. Nanti ya, saya bikin postnya tentang ini.

Saat menjadi Gadis si Anak Komunitas, saya belajar bahwa stimuli eksternal dari kegiatan berkomunitas bisa mendorong saya untuk membebaskan diri saya belajar di luar ruang kelas.

Gadis si Anak Aktif

Berangkat dari kegemaran saya bersepedah, saya pernah membuat gerakan bernama “Bandung Cycle Chic”, adaptasi dari gerakan serupa di Denmark. Gerakan ini saya buat karena saya percaya sepedah adalah moda kendaraan yang tidak hanya punya manfaat bejibun untuk vitalitas badaniah, tapi juga punya nilai filosofis juga bisa melambangkan kebebasan perempuan. Saya, yang kala itu masih bocah ingusan pakai seragam putih-biru, punya ambisi untuk menyebarkan gagasan tersebut lewat kegiatan mingguan bersepedah-sambil-main. Karena saya toh masih bocah, ngapain juga saya bikin kegiatan yang terlalu serius? Dorongan bermain saya sebagai bocah tetap saya pertahankan di gerakan yang saya buat ini. Biar gak kokolot begog*atuh.

Ini menuntun saya ke gerakan lain yang saya buat di tahun 2012, namnya “Hayu Ulin di Baksil”. Gerakan ini saya buat bersama 4 teman lainnya dengan tujuan mengajak lebih banyak orang menggunakan area Babakan Siliwangi sebagai arena bermain. Waktu itu Babakan Siliwangi sedang riuh-riuhnya oleh isu komersialisasi lahan Baksil yang seharusnya menjadi ruang publik masyakarakat. Ruang terbuka hijau yang harusnya dimiliki dan dipakai bersama ini dilihat oleh satu pihak swasta sebagai lahan komoditas yang sangat seksi untuk dieksploitasi. Jelas, isu ini memicu geraman warga Bandung yang selalu mengantagoniskan pihak kapitalis.

Saya dan teman-teman pun ikut geram. Gerakan untuk mengajak orang-orang untuk ‘ulin’ di Baksil adalah protes halus yang ditujukan bukan hanya untuk pemerintah dan para pemeran antagonis, tapi juga untuk masyarakat yang selama ini mengabaikan keberadaan Baksil yang harusnya diutilisasi oleh masyakarakat. Ya gimana bisa disebut ruang publik, kalau publiknya sendiri gak pake ruangnya? Harapan kami waktu itu adalah membuat lebih banyak orang yang pakai ruang di Baksil untuk jadi arena bermainnya, agar akan lebih banyak emosi orang yang termanifestasikan di ruang itu sehingga ada rasa memiliki yang kuat untuk mempertahankannya dari si pemeran antagonis itu.

Gagasan “Ulin di Baksil” ini saya kembangkan lagi menjadi sebuah acara triwulan berjudul “Sunday Smile Picnic”. Konsepnya masih sama, yaitu menumbuhkan rasa sentimentil masyarakat terhadap Babakan Siliwangi. Tapi kali ini, saya mengajak skena musisi indie Bandung untuk membuat gigs kecil di Babakan Siliwangi. Piknik udunan ini mengajak mereka untuk sumbangsih lagu sebagai konsumsi piknik, dan yang lainnya sumbangsih makanan botram untuk dimakan berbarengan.

Di acara ini, saya bukan menjadi orang yang main musik ataupun yang bawa makanan. Waktu itu saya cuman jadi amplifier, yang membawa kemampuan bermusik para musisi ini menjadi sesuatu yang lebih besar dari sekedar membuat show di panggung. Saya hanya memberi stimuli yang mengamplifikasi kemampuan bermusik mereka menjadi suara yang bisa menyelamatkan Babakan Siliwangi sebagai ruang publik, mengembalikan fungsinya menjadi area milik bersama. Dengan stimuli yang tepat, saya membawa kemampuan mereka menjadi tujuan yang lebih besar.

Saat menjadi Gadis si Anak Aktif, saya belajar bahwa stimuli yang tepat juga bisa membuat sebuah kegiatan sederhana berdampak lebih besar. Kala itu, saya mulai belajar untuk menjadi stimuli untuk orang lain.

Gadis si Anak Sepedah

Diantara dua titel diatas, sepertinya titel ini akan selalu nempel di hidup saya (karena saya gak ada rencana untuk berhenti sepedahan. Bicycle iz lyfe). Tentang pembelajaran yang saya dapat dari menjadi anak Sepedah, ga akan saya jabarkan panjang-panjang disini karena sudah saya pernah tulis sebelumnya. Di artikel ini;

“Cycling and Ayurveda: How These 2 Changed My Life to the Better”

Rangkuman ringkasnya;

Saat menjadi Gadis si Anak Sepedah, saya belajar bahwa stimuli yang tepat dari kegiatan fisik bisa membawa saya untuk menemukan ‘sisi terbaik’ dari diri psikologis saya.

Dari titik ini, bermulalah ketertarikan saya tentang hubungan soma (psikis) dan psyche (psikologis) yang akhirnya menuntun saya ke manuver terbaru saya.


Tuhkan, warna merah diantara benang-benang yang saya punya ini memang bias banget kan? Saya betul-betul harus mencacah dan mencari sumber warna merah dari warna oranye, magenta, ungu dan merah muda ini. Lalu akhirnya, saya bisa menemukan warna ‘merah’ yang selalu ada di kegiatan saya;

Saat mendapat stimuli yang tepat, semua orang bisa mengembangkan dirinya.


Kesimpulan dari dots yang saya hubungkan ini membelokan setir saya ke arah yang baru. Di awal tahun 2016, saya membuat sebuah manuver tajam. Saya mendaftarkan diri saya di jurusan yang selama ini sangat asing untuk saya; Public Health Science (Ilmu Kesehatan Masyarakat)

Menemukan intisari dari apa yang telah saya lakukan, membuat saya berani menukik jauh dari apa yang selama ini saya lakukan, jauh dari identitas yang selama ini saya kenal. Walaupun mungkin belokannya jauh dari jalur utama, tapi saya sudah punya tujuan di kepala. Dan saya pikir, jalan berbelok ini pun akan membawa saya ke tujuan yang sama.

Tentang Ilmu Kesehatan Masyarakat

Seperti apa yang telah saya tulis di artikel ini, saya menemukan bahwa stimuli yang dibutuhkan orang untuk mengembangkan dirinya tidak melulu datang dari eksternal. Tapi stimuli itu juga datang dari dalam; kondisi somatik yang mempengaruhi kemampuan psikologis.

Saya tercengang saat menemukan, mempelajari dan merasakan efek somatogenesis dan psikogenesis yang sangat mempengaruhi tabiat saya di keseharian. “Whoa. Ternyata, stimuli dari dalam juga sama kuat dan sama pentingnya dengan stimuli eksternal”, ujar saya saat terkagum-kagum mempelajari cara kerja tubuh dan pikiran manusia.

Berangkat dari kekaguman saya ini, saya memutuskan untuk belajar lebih dalam tentang hal ini.

Ilmu kedokteran? Tidak, saya terlalu terlambat untuk masuk fakultas kedokteran sekarang. Pun bukan ini yang saya mau.

Ilmu gizi? Tidak, saya tidak cukup Si untuk menjadi ahli gizi. Pun sepertinya, ada yang lebih besar dari cuman gizi.

Ilmu Kesehatan Masyarakat? Um… ini tuh apa ya..?

Tak cuman kamu kok yang bingung saat pertama kali dengar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Saya pun pada awalnya bingung ini tuh spesialisasi ilmu macam apa. Apa distingsinya dengan ilmu kedokteran?

“Public Health Science emphasize the knowledge of
interdisciplinary expertise needed to support individual well-being and contribute to improvement of societal health”

Tak hanya belajar tentang anatomi dan biokimia tubuh manusia, tapi juga membahas tentang relasinya dengan keadaan sosial di sekitarnya. Biopsikososial jadi fokus utama di bidang ilmu ini. Dan bukan untuk mengobati yang sakit saja, tapi Ilmu Kesehatan Masyarakat menekankan peningkatan well-being — yang berarti lebih dari sekedar kesehatan, tapi juga kesejahteraan — seseorang. Mempelajari stimuli eksternal juga internal untuk mengembangkan diri.

Manuver ini mungkin mengagetkan kamu yang kenal saya sebagai Gadis si Anak Sepedah atau Gadis si Anak Aktif atau Gadis si Anak Komunitas. Tapi setelah menemukan interkonektivitas dari semuanya, manuver ini tidak lagi terlihat terlalu membelot, bukan?

Semoga tulisan ini cukup untuk jadi sebuah re-introduksi versi terbaru dari Gadis Prameswari Azahra. Karena kamu, temanku, juga bagian dari perjalanan ini.


Akan selalu jadi temanmu,

Gadis Prameswari A.

My Expectation of Ubud

“Before you came here, what do you think will happen to you in Ubud?

“Like.. my expectation of Ubud?”
“Yep! Like for me, it was the image of Julia Roberts in Eat, Pray, Love. What’s yours?”

On December 2016, I was having the best 2-week trip of my life.

It started from a call from a dear friend.

“Gadis, do you want to come visit me in Ubud for the New Year?”

“But…….”

“Sssshhh… I know, I know. You’d say ‘But…. I don’t have the money, I don’t have the luxury to go on holiday’, yada yada. Just, stop talking now. I know your financial problem and I know that you won’t be interested having a common Bali holiday. What if..

I offer you to work for me in Ubud for 2 weeks?

I’ll pay your plane ticket & accommodation, so your money concern is resolved. Also, you can keep your Pitta-mind active by working for me & Kimmana.

How’s that sound?”

This phone call brought me to a trip I never thought I would have. Ever in my life, I never have a desire to go on a holiday. For me — who worked part-time jobs since I was 15 yo — I thought that I can’t afford the luxury of a holiday. Spending travel expenses to go somewhere and being ‘idle’ is not something that I want, and certainly not something I want to spend my hard-gained money for.

But this one is not a usual holiday, it’s a working-holiday arrangement. I get to do something ‘productive’ while I’m there, and my travel expenses covered. A perfect arrangement to solve my concerns!

That trip is not only giving me many enlightenments, but also it induced a new desire into me. A desire to learn from the unfamiliar.

Lucky for me, that same friend — who called me last year — has offered me the same arrangement for next year. Right now, the offer is for 5 weeks.


Fast forward one year later.

So, what am I actually doing in Ubud? What kind of work that I actually do?

Meet Kimmana & Zia Nichols, a holistic health practitioner couple who brought me here and taking me as their Young Padawan apprentice.

Kimmana is an Australian Naturopath who fell in love with ancient traditional medicine and has been living as a professional Ayurvedic Doctor for this past 9 years. As an ENTP, he always teach others about this wishy-washy science of traditional medicine with a scientific reasoning & modern point of view. His wife, Zia, has been helping him to create this holistic healing practice into a modern & sustainable business model. Zia, who originally have an education background in Law, wanted to share the wisdom that Kimmana have been learning for a decade to general public — especially to Indonesian.

What kind of work are you doing with them, Gadis?

Kimmana, who have learned many model of traditional and modern medicine, have been putting the puzzle and create a mashup of traditional health science & wisdom from India, Thailand & China. He called this new breakthrough model ThaiVedic, a Yoga & bodywork holistic therapy. He established this model with his friends in 2012. This year, they held a 200 hours ThaiVedic Teacher Training (sort of a Training for Trainers) in Ubud for a month.

My working-holiday arrangement is to work as assistant for this training. In exchange, they gave me plane tickets, place to live, food to eat and money as my take-home-pay. But they didn’t only offer me material support for me to live in Ubud, they also offer me emotional & intellectual support that I can carry throughout my life.

My last 2 week trip to Ubud have overwhelmed me. I don’t know what will coming for me in this 5 weeks trip.


This trip will be the first time I spent more than a month away from home. Living in a new place, sleeping in a new bed, breathing the different air, having new intentions.

Ah, yes. So… Back to the first question. What is my expectation of Ubud?

Obviously, I don’t expect to have the Julia-Roberts-like Ubud experience.

But I don’t want to just surrender with what the Universe will brought me either. So, I made a list of my own expectation of Ubud. Here goes:

  1. Crying my heart out — Zia told me that most of the people who join this training have went through an emotional roller coaster throughout the process. Let’s see if this experience can brings me to unexpected emotional breakdown.
  2. Detoxifying my Brain Fog — For these past few months, I feel like having this Brain-fog that keeps me from thinking clearly because I have many undigested byproduct & unprocessed thoughts. Let’s see if this fog will be cleaned up after this trip ends.
  3. Reset my biological clock & reset my taste bud — This training have schedule aligned with the circadian biology clock & have a balanced-food catering for daily meals. At sunrise, we’ll start the day with yoga class & meditation, followed with an intellectual-engaging class and discussion when the sun is in the highest and it’ll ends with a bodywork/massage therapy class before sunset. By the night come, we all can have rest & have deep sleep. And for the meal, we’ll have a full vegetarian meal every single day to give less work for the digestive system. It’s all have been carefully orchestrated so our metabolism can focus on creating new synapses and therefore can absorb the knowledge better.
  4. Practicing to express all my thoughts and notions in English — In this training, I have to speak on full English for a whole month. So, let’s see if I can articulate my thought & notions well without having to reduce any of the thoughts.
  5. Have enough knowledge about health & can apply the therapy to my closest ones — Health & happiness is a direction, not a finish line. I hope I can bring my closest one into this direction once I come back to Bandung.
  6. Being a better receptor — A good receptor will not only receives the signals & stimuluses that they take, but also transform the stimuluses into something beneficial. Even though I don’t know how would I transform it, but I’ll do the best I can
  7. Do interviews — In this training, I will meet people from around the world who come to Ubud to learn the things that I am passionate about. And most of them are much much much older than I am (many of them are 50 years old!). I don’t know what kind of people will I meet here, but I will surely take notes and learn from them.

 

Why am I making this journal

A friend once said to me,

“When you are away, you’ll most likely miss your friends back in home. But it doesn’t makes you want to go back immediately. It’s just makes you want them to come here, and experience the same process as you did.” –Paramasatya

This journal would be my love letter for my loved ones, whom I miss so much and whom I longing to be here with me.

I want them to know every bits of lesson, processes & experience that I have here. I hope this journal can connect me with you, penetrating the non-locality realm so I can feel that you’re here with me, going through this process together.

I also dedicating this journal for Zia, a dear friend who brought me here.

I want her to know that by making this leap happened, she have contributed a huge impact on my process of burgeoning. Thank you, for bringing me this far.

photo-on-11-28-16-at-12-57-pm
Let’s see how this girl will transform in 5 weeks.

 

Apoptosis and Universe’s Promise of Inevitable Separation

I’ve experienced many separations in my life, but all of the separations were barely scarred me.

From the facile separation with my material possessions due to my indecency; like when I lost my phones several times — yes, phones. not once, not twice, I lost it FOUR times — , or that time when I ‘lost’ Rp 500.000,- for a nonrefundable Go-jek top up, and many other stuffs that I lost by my slovenliness. There were also wearying separations of a relationship disunion; like when my best-friend left to study in Germany in 2012 or when I thought I’d lost my mom to cancer she was having. But still, even the weariest separation only makes me cried for 2 days but didn’t really do me any more harm than to 2 days worth of productivity. Did I cry? Yes. Did I feel sad? Yes. But none of the feels stayed for too long and I can get my chin up in no time. I seem to have a really good coping mechanism towards this issue of separation.

Because I see separation as a natural occurrence, I tend to not contending my possessions when it slipped off my hand.

But, is it the better idealism?

I thought that my view towards separation is better than others because I’ve encountered many people who suffered from a separation and it seems that they are having a bad time getting back on their own feet — without the support from their material possessions or relationship that they had. One of my good friends had his Bipolar Disorder triggered and worsen when his partner left him, and I kept him company every day & night for weeks to help him back on track and get him off his meds. So I can give almost full empathy to those who is wretched by the bitter taste of separation.

But I remember that “Too much of anything is good for nothing”. In my case, because I took separation issue too lightly to prevent myself from the agony, I never struggle to keep hold of anything and I rarely make anything — material possession nor relationship with others — sustainable. But how do we measure “enough” is not “too much?”

I believe that human body is the microcosm of the Universe, and that human is the cells of the Universe’s body. Learning to understand how our body works properly is my attempt to have a better understanding of how we — human — have to ‘works’ to create a harmonious and healthy interpersonal relation in this immense ‘body’ of the Universe.

Biochemical Promises of An Inevitable Separation

In 1842, a german scientist named Karl Vogt describes an organism cell program called Apoptosis. This is a process of programmed death which causes changes in cell’s morphology such as cell shrinkage, DNA fragmentation, and mRNA decay. Due to this process, our human body ‘kills’ 50–70 billion cells every day in order to make room for the new living cells. This discovery of Apoptosis has inspired Weismann to write the first wave of Evolutionary Theory of Aging; Programmed Death.

Apoptosis is a natural process of separation that occurs in our body on a daily basis.

This highly regulated process have grant advantages for our body during our lifecycle. It supports the cells regenerations and takes out the deceased cells in order to maintain our health.

But then again,

“Too much of anything is good for nothing”

Gadis’s Marginalia, 2016

This natural separation process is good when it is not lacks, nor too much.

LACK OF = PROLIFERATION

When the apoptotic process is not working, our body builds up too many residues because there are only a little — to none—force to separate the residues from our body. Ayurveda sees body residue as Ama, and it says that Ama isn’t only created from undigested foods, but also from the unprocessed emotions that we repressed and make our unconscious mind too fraught. Just like when we have separation with our loved ones, and we hold that bitter feeling too tight because we resist acknowledging that separation; wether it is caused by a break-up, a fight or even by death.

The resistance to accepting the apoptotic process — the separation — ignites our cell to rapidly growing out of control because there is no warden to disciplined the body ‘cell(pun intended, sorry).

Too much of anything is good for nothing, right? So is the cell growth. Without disposing of the old cells and let it withered inside, our body don’t have room to cultivate the new cells to grow freely. A Japanese organizing consultant and a best-selling author, Marie Kondo, has said that decluttering the stuff in the room and dispose of the unnecessary things could create a room that could ignite clear thinking. We should declutter our emotions, so we could immerse ourselves when the new emotions come along.

Being a youth, you must’ve feel more liberated when the old gives you room to move in your own autonomy, don’t you? Otherwise, the world will become too stodgy without the youth-ignited radical thinking.

TOO MUCH = ATROPHY

When the apoptotic process is too much — reflecting back to my case, where I embrace separation inordinately — , the process becomes an atrophy. Sure, atrophy is not a deadly word. Atrophy will decrease and devolve the effectiveness of my body cell to function normally until, gradually, shuts the body down completely because it throws too many cells away out of our body.

As I said above, I understand that separation is an inevitable natural occurrence. But I take this fact in a wrong discernment. I took zero effort to hold dear to what I already possessed — wether it is a material possession or a relationship — and voluntarily let it slipped out of my hand. I took zero effort to prevent myself from losing it.

When I lost too much of a thing, I cannot function normally. Apparently, no matter how much I convince myself that I am self-sufficient without any means of external support, I will always need that extra support. Each (four) times I lost my phone, I always keep my cool and never let the anxiety lingers for too long after the accident happened. But eventually, I will get a new phone to replace the empty role of “communication device” after the old phone got ‘accidently’ disposed of. But treating every material thing disposable has harmed our environment more than we can imagine. And if I keep treating my emotion as a disposable thing, I can never let the emotion penetrate in me and will be forever detached to other human beings.

“Too much of anything is good for nothing”

We experience separation every single day — both internally on our body biology and externally on physical+psychological measure. It is an inevitable natural occurrence. But it is our obligation to control how the separation affects us.

If it dragged you, let it go.

If it supports you, hold dear.


These links below will works magic to help you cope with separation:

“The Books I’ve Read”, how you could excerpt the lesson learned from each encounter.

“Why Love & Teaching Belong Together”, how you educate others to keep the relationship you have harmonious.

Langit terbuka luas, mengapa tidak pikiranku pikiranmu?

What benefit do we get from gazing up at the sky?

 

“It intended to produce an expanded state of conciousness in which the pain of immediate troubles is lessened by euphoric recognition of the immensity of nature and the cosmos.”

– Alain de Botton, 2016

 

 

IMG_20160105_054126
Ubud, Indonesia 2015

 

It also reminds our grandiose-self that we are not only on living on top of the world,

but we are also living under a great vast sky.

As above, so below.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

#nowplaying Langit Terbuka Luas by Pure Saturday

Yakin, mau diberikan yang terbaik?

“Ya Tuhan, berikanlah yang terbaik untukku”

Apakah doa itu didasari oleh keberanian?

Karena yang terbaik, bisa jadi bukan yang paling menyenangkan untukmu. Ataupun paling mudah. Perlu keberanian besar untuk menerima dan memahami yang terbaik menurut Tuhan.

atau rasa malas?

Karena kepasrahan baru menjadi baik saat keringat mengucur, tanganmu kasar & letih terasa. Apa artinya kepasrahan saat tanganmu belum kotor dan telah dikerahkan seluruh tenaga? Tak ada. Kepasrahan bukan justifikasi dari rasa malas. Keduanya memang beda tipis, memang.

Scan 22.jpg

“If there is a God, I know he likes to rock.”

“What if?! Gak boleh kamu bilang ‘what if’! Tuhan itu keberadaannya gak boleh dipertanyakan!”
“I know he likes to rock?! Beraninya kamu mendegredasi Tuhan dengan menyamakan Dia dengan rocker!”

Begitulah kira- kira amukan yang saya dapat dari seseotang yang sangat konservatif) waktu saya menguggah video klip ini di Facebook saya.

 

 

Di suatu percakapan yang terjadi di rumah DU65 Pav beberapa tahun yang lalu, muncul pertanyaan

“Menurut kalian, Tuhan tuh sifatnya gimana?”

Lalu
muncul jawaban yang beragam.

Ada yang bilang,

“Tuhan tuh fasilitator. Mengatur segala sesutu, memberi kita arahan berbentuk clues & hunch, tapi membiarkan kreasinya untuk berjalan sendiri supaya kita (sebagai kreasinya) mikir bahwa kita masih punya free will.” Ujar seorang sarjana pendidikan yang berakhir menjadi fasilitator belajar anak.

“Tuhan tuh sutradara. Buat apa lagi Tuhan nyiptain emosi untuk kita kalau Dia gak suka intrik dan drama. Itu tuh kerjaannya sutradara!?” Ujar seorang sutradara.

“Tuhan tuh suka bermain. Bermain-main dengan takdir kita, bermain-main dengan bikin kreasi yang kompleks. Mungkin diatas sana, Dia lagi senang lihat kita ‘bermain-main’ sendiri.” Ujar seorang sarjana Biologi yang berprinsip “Hidup adalah permainan”

 

Dari situ
muncul sebuah kesimpulan,

“Everybody sees God, the way they see themselves.”

Percakapan ini terjadi tahun 2008, saat saya masih umur 13 tahun. Belum pernah menanyakan konsep Tuhan, belum ngerti konsep spiritualitas, belum juga menemukan identitas saya sendiri. Saya cuman bisa manggut-manggut, menyimak dan termenung.

Beberapa waktu setelah itu, saya bertemu dengan lagu ini. Saya (yang kala itu masih jadi seorang anak SMP clueless caludih yang selera musiknya ketinggalan jaman) lagi nonton konsernya Smashing Pumpkin di Youtube. Waktu itu saya gak punya album Machina II/The Friends & Enemies of Modern Music, jadi saya belum pernah dengar lagu Smashing yang judulnya “If There is A God” ini.

and if there is a god
i know he likes to rock
he likes his loud guitars
and his spiders from mars
if there is a god
i know she’s watching me
she says she likes what he sees
but there’s trouble on the breeze
who are you this time?
are you one of us, flying blind?
’cause i’m down here throwing stones
while you’re so far from home
and if there is a god
you know they’re on tv
they’re the spies with bedroom eyes
that cower in our skies
who are you this time?
are you one of us, flying blind?
’cause we’re down here throwing stones
while you’re so far from home
and if there is a god
if there is a god

 

Waktu pertama kali saya dengar Billy Corgan nyanyi lagu ini dengan gitar dan baca liriknya,
I was mesmerized.
Buat saya, lagu ini bukannya mempertanyakan eksistensi Tuhan.
Malah sebaliknya.
Billy Corgan cerita tentang definisi Tuhan yang dekat dengannya dan yang dia mengerti lewat lagu ini.

Dari situ saya menemukan, bahwa semua orang berhak untuk mendefinisikan Tuhan-nya sendiri. Bukan cuman berhak, tapi harus.

Karena untuk menemukan figur Tuhan yang paling dekat denganmu dan paling kamu mengerti,

kamu harus menemukan dirimu sendiri.

7 tahun setelah kejadian ini, apakah saya sudah menemukan Tuhan versi Gadis Prameswari Azahra?
Hm. Belum bisa saya bilang sudah.
catatan kecil:
Ada yang sadar gak kalo Billy Corgan pakai refrensi David Bowie untuk bikin lagu ini? Sebagai fangirl Bowie, lagu ini rasanya kayak mash-up dari 2 musisi favorit, hihihi.
“and if there is a god
i know he likes to rock
he likes his loud guitars
and his spiders from mars”

Mengingatkan kamu sama Ziggy Stardust-nya Bowie kan?

for the sake of knowledge or for the sake of being right.

Bandung
00.30
di sebuah teras sederhana, tanpa kursi, hanya ada karpet dan kopi.

“Kang, kumaha nya*.. Semakin saya banyak belajar, saya malah makin ngerasa gak tau apa-apa. Saya malah jadi makin pengen diem aja,  takut untuk berbagi sama orang lain karena ilmu yang saya punya ternyata masih sedangkal mata kaki.”
“Tujuan kamu berbagi itu untuk ‘mengembangkan ilmu’ atau  untuk ‘dibenarkan oleh orang lain’? Kalau tujuannya untuk ‘dibenarkan oleh orang lain’, berarti kamu gak akan pernah bisa berbagi sama orang lain.
Selamanya.
Karena sampai kapanpun, sampai mati pun, proses belajar gak akan berhenti. Kamu gak akan pernah jadi yang paling pintar atau jadi yang paling tahu.
Tapi kalau tujuannya untuk ‘mengembangkan ilmu’, artinya kamu harus selalu membagi pengetahuan yang kamu punya. Sesedikit apapun, sedangkal apapun. Sekarang juga! Karena ilmu berkembang bukan dengan afirmasi, tapi dengan kritisi.”

 

Kita semua takut untuk terlihat sebagai amatir.

Takut membagi proses yang hasilnya belum terlihat dan rampung.
Takut terlihat salah.
Takut dapat kritik.
Takut ini.
Takut anu.

Tapi ternyata, bukan begitu caranya kita belajar!
Ide,
pikiran,
opini,
& ilmu
tidak seharusnya diinkubasi lama-lama!

“A good work isn’t created in a vacuum, and that the experience of art is always two-way street. It is incomplete without feedback” (Kleon, 2014)
to-be-a-teacher-e1434297576166.jpg
(Newspaper Blackout Poems by Austin Kleon)

 

Itulah motivasi saya untuk membuat blog ini.
Untuk membagi apa yang sedang saya pelajari dan membiarkan kamu untuk mengintip sedikit ke kepala saya. Blog ini mungkin akan berisi percikan-percikan antusiasme saya, atau bisa jadi hanya berisi racauan berantakan. I believe that raw enthusiasm is contagious.
Apapun itu isinya, yang pasti saya berharap bisa menjaring amatir-amatir lain yang mau ikut berdiskusi diantara racauan atau ikut terpercik oleh antusiasme saya.
Karena disini bukan tempat saya untuk menjadi sempurna, disini tempat saya membuat kesalahan.

Because I’m not here for the sake of being right.